Sabtu, 18 Maret 2017

Perjuangan seorang Ayah

sesibuk dan mengharukan malam ini , Ayah dari peserta datang dan menceritakan hidupnya dari #RantauPrapat, #SumateraUtara #DAcademy4 IndosiarID
Kisah tentang perjuangan orangtua demi untuk kebahagiaan anaknya memang tak ada bandingannya, malaikat nyata yang dikirimkan Tuhan (Allah SWT) untuk kita , malaikat tanpa sayap :")
( Instagram/Twitter/line: @asddarayp , di Follow ya teman-teman, mari berteman)
            Sang Ayah mencari nafkah dengan menjadi nelayan, sampai umurnya tuapun masih ia lakukan karna ia bilang hanya itu yang ia bisa, ia tak punya lahan untuk bertani, tak punya mata pencaharian lainnya.
          Sang Ayah juga kini sudah menghindar dari lingkungan dan teman-temannya karena telinganya sudah tak jelas lagi, malu orang bilang apa kita jawab apa katanya.
             Ia bilang ia tak bisa apa-apa selain berdo'a-berdo'a dan terus berdo'a kepada Tuhan yang Maha segala-galanya agar anak sukses bisa membanggakan keluarga.
              Semua yang menonton juri, host, pemusik, penonton di sana maupun aku dan keluargaku yang hanya penonton dari rumahpun menangis mendengar kisah haru itu, mereka menangis berpelukkan ayah dan anak diatas panggung, suasanapun semakin menjadi haru.

     Dan begitulah aku selalu tersentuh dan haru kalau tentang orangtua, orang yang paling berjasa dalam hidup.

Selasa, 14 Maret 2017

Bohong dan Sombong

Kebohongan dan Kesombongan adalah dua hal yang tak ada obatnya kecuali dengan Jujur dan Rendah Hati.
Tetaplah menjadi baik meski banyak yang tak baik disekitarmu, tetaplah jadi cahaya ditengah gelap, penyejuk ditengah panas, manis dalam situasi sepahit apapun.
Intinya tak akan pernah rugi menjadi baik karena Tuhan (Allah SWT) bersamamu, dan akan dicintai seluruh penduduk bumi dan langit. ( @asddarayp AssdarAYP/ Asep Yanuar Putra Buddar , 15 Maret 2017 , 09:09 ) #AsddarAYPgrapher #salaminspirasi #AsdarAYP
Follow Instagram/Twitter/line : @asdsarayp

Tidak akan pernah menang orang yang Bohong dan sombong, kalaupun memang tak akan lama karena ia dikejar azab, dikejar dosa, dan di kutuk oleh penduduk bumi dan langit, hanya dengan bertaubat secepatnya, tidak mengulangi dan jujur selalu dan rendah hati.

Jangan pernah meragukan kebaikkan meski hanya kecil, tetap akan berdampak baik, untuk dirimu sendiri dan sekitarmu.

Kita ini hanya sebentar hidup untuk apa dihabiskan dengan hidup dalam kebohongan dan kesombongan, itu akan membuat hidup tak bermakna.

Jadi baik dan tetap baik dan semakin baik itu sulit memang tapi sulit bukan berati tak bisa.

Mari menebar kebaikkan setiap saat.

Senin, 06 Maret 2017

Ditampar dua kali dalam satu waktu

Penjual gado-gado ini baru saja menampar saya dua kali.

Saya sudah beberapa kali beli gado2 di tempat bu Ijah - Siti Khodijah- di pojok jalan Asmawi, Beji, Depok ini. Untuk kedua kalinya saya dipaksa menunggu di gerobaknya yang ditinggalkan begitu saja.

"Lagi sholat dzuhur mas bu Ijah nya..." kata tukang rambutan di sebelahnya. Saya pun menunggu.

Lima belas menit kemudian bu Ijah muncul, karena sudah kenal dengan wajah pelanggannya ini dia lalu bilang, "maaf ya nunggu lama... pedas banget kan?"

"Habis sholat bu?" tanya saya.
"Iya mas, kaya kagak sholat kagak, rugi dong saya..." jawabannya bikin saya merasa ditampar.

"Nggak takut kehilangan pelanggan?" tanya saya lagi.

"Emang sih kata orang-orang setiap pas saya sholat ada deh enam sampe tujuh pelanggan yang datang... tapi ya kalau rezeki saya tuh orang pada balik lagi. Kalau kagak balik ya bukan rezeki saya..."

Plak! Ditampar lagi saya rasanya sama bu ijah. Yang kedua ini terasa lebih pedas tamparannya, lebih pedas dari rasa gado-gadonya. Jelas, keyakinannya soal rezeki jauh diatas keyakinan saya yang kadang masih ragu.

Terima kasih ya bu Ijah atas tamparannya. "Sekaya apa dirimu sampai rela meninggalkan sholat?"

IG/ Twitter / Line : @asddarayp
Prestigeholics

Minggu, 05 Maret 2017

Bahas Suku-suku di Bengkulu

Setalah Bahas Suku-suku dari Sumatera Selatan, Jambi, Lampung sekarang kita Bahas Bengkulu ya kawan-kawan

Suku-suku bangsa yang mendiami Provinsi Bengkulu dapat dikelompokkan menjadi suku asli dan pendatang, meskipun sekarang kedua kelompok ini mulai bercampur baur. Bahasa yang dominan dipakai adalah bahasa Rejang, yang banyak dipahami oleh sebagian besar penduduk, selain bahasa Melayu (bahasa Indonesia) dan bahasa Serawai. Di Pulau Enggano dipakai bahasa Enggano. Suku-suku pribumi mencakup suku-suku berikut:

Mukomuko, mendiami wilayah Kabupaten Mukomuko;Pekal, mendiami wilayah Kabupaten Mukomuko dan Kabupaten Bengkulu Utara;Rejang, mediami wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, KepahiangRejang Lebong dan Lebong;Lembak, mendiami wilayah Kota Bengkulu dan Kabupaten Rejang Lebong;Serawai, mendiami wilayah Kabupaten Seluma dan Bengkulu Selatan;Basemah, mendiami wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan dan Kaur;Kaur, mendiami wilayah Kabupaten Kaur;suku-suku pribumi Enggano (ada enam puak), mendiami Pulau Enggano.

Suku bangsa pendatang meliputi MelayuJawa (dari Banten), BugisMaduraMinangkabauBatakSunda, dan lain-lain.

Bahas suku Lampung

Setelah Suku-suku di Sumatera Selatan, Jambi, sekarang kita baca Suku-suku dari Lampung ya,

Suku Lampung atau Ulun Lappung, adalah kelompok masyarakat yang disebut rumpun Lampung, terdiri dari beragam suku yang tersebar di seluruh wilayah provinsi Lampung. Suku-suku Lampung ini secara geografis menempati wilayah mulai dari Lampung, hingga ke bagian wilayah Bengkulu dan Sumatra Selatan, bahkan terdapat juga di pantai barat provinsi Banten.

Lampung PepadunSuku Lampung, karena sejak awal sudah tersebar-sebar ke berbagai wilayah, sehingga beberapa kelompok sudah sulit ditemui keberadaannya, dikarenakan banyak terjadi perkawinan campur dengan suku-suku pendatang lain, sehingga identitas asli mereka sebagai suku Lampung agak tersamarkan. Tetapi sebenarnya kalau ditelusuri lagi, maka, suku-suku Lampung yang telah tercampurbaur dengan kelompok suku pendatang ini, masih bisa ditelusuri.

Berbicara tentang asal-usul, seperti yang banyak dibahas di banyak tulisan yang tersebar di dunia web maupun pada buku-buku yang menceritakan tentang asal-usul suku Lampung, mengatakan bahwa suku Lampung berasal dari Skalabrak. Suatu daerah yang dianggap sebagai asal muasal nenek moyang suku Lampung saat pertama sekali hadir di pulau Sumatra, awal kedatangannya dari seberang lautan.

Seorang penulis mengatakan penghuni pertama dataran tinggi Skalabrak yang berada di gunuing Pesagi di wilayah Lampung Barat adalah suku Tumi. Diceritakan bahwa suku Tumi dipimpin oleh seorang Ratu bernama Ratu Sekerummong. Keratuan ini masih menganut agama Hindu Bairawa.

Setelah suku Tumi lama hidup dan menetap di wilayah tersebut, masuklah kelompok orang dari suku-bangsa Proto Malayan yang menaklukkan Keratuan suku Tumi ini, dan mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Tulang Bawang (To-lang Poh-wang). Kerajaan Tulang Bawang ini lah yang menurunkan suku Tulangbawang yang sekarang mendiami wilayah Tulang Bawang Lampung. Tidak berapa lama di wilayah Skalabrak ini datang pulalah sekelompok orang yang masih ber suku-bangsa Proto Malayan yang mendirikan Kerajaan Skalabrak. Dari Kerajaan Skalabrak ini lah banyak menurunkan berbagai kelompok yang tersebar di berbagai daerah Lampung, yang menjadi beberapa kelompok suku-suku di Lampung.

Pada dasarnya berbagai macam suku-suku Lampung ini berasal dari Skalabrak, namun dalam perkembangannya, masyarakat Lampung terbagi dua berdasarkan dua adat yang berbeda, yaitu adat Lampung Saibatin dan adat Lampung Pepadun. 

Masyarakat Adat Saibatin kental dengan nilai aristokrasinya, sedangkan Masyarakat Adat Pepadun lebih berkembang dengan nilai-nilai demokrasinya yang berbeda dengan nilai aristokrasi yang masih dipegang teguh oleh Masyarakat Adat Saibatin.

Masyarakat Adat Lampung Saibatin: (Peminggir, Pesisir)

Penyebaran:
Sepanjang pantai timur, selatan dan barat provinsi Lampung.Labuhan Maringgai, Pugung, Jabung, Way Jepara, Kalianda, Raja Basa, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Suoh, Sekincau, Batu Brak, Belalau, Liwa, Pesisir Krui, Ranau, Martapura, Muara Dua, Kayu Agung, empat kota ini ada di provinsi Sumatera Selatan, Cikoneng di pantai Banten dan Merpas di Selatan Bengkulu.

Terdiri dari:

suku Skalabrak, dari Paksi Pak Skalabrak (Lampung Barat)suku Peminggirsuku Melinting, dari Keratuan Melinting (Lampung Timur)suku Menintingsuku Darahputih, dari Keratuan Darah Putih (Lampung Selatan)suku Semaka, dari Keratuan Semaka (Tanggamus)suku Komering, dari Keratuan Komering di provinsi Sumatera Selatansuku Cikoneng, di provinsi Banten

Masyarakat Adat Pepadun: (Pedalaman)

suku Abung Siwo Mego
(Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa).
Mendiami 7 wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.suku Tulangbawang Mego Pak
(Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan). 
Mendiami 4 wilayah adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga.suku Pubian Telu Suku
(Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi). 
Mendiami 8 wilayah adat: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.suku Sungkai  dan 
suku Waykanan Buay Lima
(Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu 5 keturunan Raja Tijang Jungur). Mendiami 9 wilayah adat: Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.

dan beberapa lagi:
suku Merpassuku Kruisuku Belalau

Suku-suku di Jambi

SUKU KUBU (SUKU ANAK DALAM)

Suku Kubuatau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatra Selatan. Mereka mayoritas hidup di propinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang.

Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang m lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem matrilineal.

Secara garis besar di Jambi mereka hidup di 3 wilayah ekologis yang berbeda, yaitu Orang Kubu yang di utara Provinsi Jambi (sekitaran Taman Nasional Bukit 30), Taman Nasional Bukit 12, dan wilayah selatan Provinsi Jambi (sepanjang jalan lintas Sumatra). Mereka hidup secara nomaden dan mendasarkan hidupnya pada berburu dan meramu, walaupun banyak dari mereka sekarang telah memiliki lahan karet dan pertanian lainnya.

Kehidupan mereka sangat mengenaskan seiring dengan hilangnya sumber daya hutan yang ada di Jambi dan Sumatra Selatan, dan proses-proses marginalisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan suku bangsa dominan (Orang Melayu) yang ada di Jambi dan Sumatra Selatan.

Bahasa Kububahasa Anak Dalam, atau bahasa Orang Rimba adalah bahasa yang digunakan suku Kubu[1]. Persebaran penuturnya meliputi provinsi Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Bahasa ini termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia.

SUKU KERINCI

Suku Kerinci adalah suku bangsa yang mendiami wilayah Kabupaten Kerinci, Jambi.

Kata Kerinci berasal dari bahasa Tamil Kurinji yaitu nama bunga kurinji (Strobilanthes kunthiana) yang tumbuh di India Selatan pada ketinggian di atas 1800m. Karena itu Kurinji juga merujuk pada kawasan pegunungan.

Suku Kerinci sebagaimana juga halnya dengan suku-suku lain di Sumatra termasuk ras Mongoloid Selatan berbahasa Austronesia.

Berdasarkan bahasa dan adat-istiadat suku Kerinci termasuk dalam kategori Melayu, dan paling dekat dengan Minangkabau dan Melayu Jambi. Sebagian besar suku Kerinci menggunakan bahasa Kerinci, yang memiliki beragam dialek, yang bisa berbeda cukup jauh antar satu tempat dengan tempat lainnya di dalam wilayah Kabupaten Kerinci. Untuk berbicara dengan pendatang biasanya digunakan bahasa Minangkabau atau bahasa Indonesia (yang masih dikenal dengan sebutan Melayu Tinggi).

Suku Kerinci memiliki aksara yang disebut surat incung yang merupakan salah satu variasi surat ulu.

Sebagian penulis seperti Van Vollenhoven memasukkan Kerinci ke dalam wilayah adat (adatrechtskring) Sumatera Selatan, sedangkan yang lainnya menganggap Kerinci sebagai wilayah rantau Minangkabau.

Suku Kerinci merupakan masyarakat matrilineal.

Sebagaimana diketahui dari Naskah Tanjung Tanah, naskah Melayu tertua yang ditemukan di Kerinci, pada abad ke-14 Kerinci menjadi bagian dari kerajaan Malayu dengan Dharmasraya sebagai ibu kota. Setelah Adityawarman menjadi maharaja maka ibu kota dipindahkan ke Saruaso dekat Pagaruyung di Tanah Datar.

Satu kelompok masyarakat di dalam satu kesatuan dusun dipimpin oleh kepala dusun, yang juga berfungsi sebagai Kepala Adat atau Tetua Adat. Adat istiadat masyarakat dusun dibina oleh para pemimpin yang jabatannya yaitu Depati dan Ninik Mamak. Dibawah Depati ada Permenti (Rio, Datuk dan Pemangku) merupakan gelar adat yang mempunyai kekuatan dalam segala masalah kehidupan masyarakat adat.Wilayah Depati Ninik Mamak disebut ‘ajun arah’. Struktur pemerintahan Kedepatian:

Depati Mudo Terawang Lidah berpusat di Desa PENAWARDepati Empat Pemangku Lima Delapan Helai Kain Alam Kerinci, berpusat di Rawang;Depati Empat Tiga Helai Kain, berpusat di Pulau Sangkar;Pegawe Rajo Pegawe Jenang Suluh Bindang Alam Kerinci, berpusat di Sungai Penuh;Siliring Panjang atau Kelambu Rajo, berpusat di Lolo;Depati Gembalo Sembah Tigo Luhah Pemuncak Tanah Mendapo Semurup,berpusat di Semurup ;Lekuk Limo Puluh Tumbi, bepusat di Lempur;

Kekuatan Depati menurut adat dikisahkan memenggal putus, memakan habis, membunuh mati. Depati mempunyai hak yang tertinggi untuk memutuskan suatu perkara. Dalam dusun ada 4 pilar yang disebut golongan 4 jenis, yaitu golongan adat, ulama, cendekiawan dan pemuda. Keempat pilar ini merupakan pemimpin formal sebelum belanda masuk Kerinci 1903. Sesudah tahun 1903, golongan 4 jenis berubah menjadi informal leader. Pemerintahan dusun(pemerintahan Depati) tidak bersifat otokrasi. Segala maslah dusun, anak kemenakan selalu diselesaikan dengan musyawarah mufakat.

Ninik Mamak mempunyai kekuatan menyelesaikan masalah di dalam kalbunya masing-masing. Dusun terdiri dari beberapa luhah. Luhah terdiri dari beberapa perut dan perut terdiri dari beberapa pintu, didalam pintu ada lagi sikat-sikat. Bentuk pemerintahan Kerinci sebelum kedatangan Belanda dengan system demokrasi asli, merupakan system otonomi murni. Eksekutif adalah Depati dan Ninik Mamak. Legislatif adalah Orang tuo Cerdik Pandai sebagai penasihat pemerintahan. Depati juga mempunyai kekuasaan menghukum dan mendenda diatur dengan adat yang berlaku dengan demikian dwifungsi Depati ini adalah sebagai Yudikatif dusun. Ini pun berlaku sampai sekarang untuk pemerintah desa, juga pada Zaman penjajahan Belanda dan Jepang dipergunakan untuk kepentingan memperkuat penjajahannya di Kerinci.

Masyarakat Kerinci menarik garis keturunan secara matrilineal, artinya seorang yang dilahirkan menurut garis ibu menurut suku ibu. Suami harus tunduk dan taat pada tenganai rumah, yaitu saudara laki-laki dari istrinya. Dalam masyarakat Kerinci perkawinan dilaksanakan menurut adat istiadat yang disesuaikan dengan ajaran agama Islam.

Hubungan kekerabatan di Kerinci mempunyai rasa kekeluargaan yang mendalam. Rasa sosial, tolong-menolong, kegotongroyongan tetap tertanam dalam jiwa masyarakat Kerinci. Antara satu keluarga dengan keluarga lainnya ada rasa kebersamaan dan keakraban. Ini ditandai dengan adanya panggilan-panggilan pasa saudara-saudara dengan nama panggilan yang khas. Karenanya keluarga atau antar keluarga sangat peka terhadap lingkungan atau keluarga lain. Antara orang tua dengan anak, saudara-saudara perempuan seibu, begitupun saudara-saudara laki-laki merupakan hubungan yang potensial dalam menggerakkan suatu kegiatan tertentu.

Struktur kesatuan masyarakat Kerinci dari besar sampai yang kecil, yaitu kemendapoan, dusun, kalbu, perut, pintu dan sikat. Dalam musyawarah adat mempunyai tingkatan musyawarah adat, pertimbangan dan hukum adat, berjenjang naik, bertangga turun, menurut sko yang tiga takah, yaitu sko Tengganai, sko Ninik Mamak dan sko Depati.

Perbedaan kelas dalam masyarakat Kerinci tidak begitu menyolok. Stratifikasi sosial masyarakat Kerinci hanya berlaku dalam kesatuan dusun atau antara dusun pecahan dusun induk. Kesatuan ulayat negeri atau dusun disebut parit bersudut empat. Segala masalah yang terjadi baik masalah warisan, kriminal, tanah dan sebagainya selalu disesuaikan menurut hukum adat yang berlaku.

SUKU BATIN

Suku Batin adalah suku Melayu di provinsi Jambi di bagian pedalaman pulau Sumatra, Indonesia. Ada sekitar 72.000 orang Batin yang tinggal di pedalaman Sumatra tengah bagian selatan. Mereka menuturkan bahasa Melayu dengan dialek Jambi. Suku Batin kebanyakan beragama Muslim, tetapi menganut sistem matrilineal.

Kalau salah atau ada tambahan silakan tulis di komen y :)

Suku-Suku di Sumatera Selatan

Suku - Suku di Sumatera Selatan

Indonesia kaya akan suku bangsanya dari daerah Sumatera Selatan menyumbang 12 suku besar yang terkenal, yang belum disebut silakan sebut dikolom komentar,

1. Suku Komering

Komering merupakan salah satu suku atau wilayah budaya di Sumatra Selatan, yang berada di sepanjang aliran Sungai Komering. Seperti halnya suku-suku di Sumatra Selatan, karakter suku ini adalah penjelajah sehingga penyebaran suku ini cukup luas hingga ke Lampung. Suku Komering terbagi atas dua kelompok besar: Komering Ilir yang tinggal di sekitar Kayu Agung dan Komering Ulu yang tinggal di sekitar kota Baturaja.

Suku Komering terbagi beberapa marga, di antaranya marga Paku Sengkunyit, marga Sosoh Buay Rayap, marga Buay Pemuka Peliyung, marga Buay Madang, dan marga Semendawai. Wilayah budaya Komering merupakan wilayah yang paling luas jika dibandingkan dengan wilayah budaya suku-suku lainnya di Sumatra Selatan. Selain itu, bila dilihat dari karakter masyarakatnya, suku Komering dikenal memiliki temperamen yang tinggi dan keras. 

Berdasarkan cerita rakyat di masyarakat Komering, suku Komering dan suku Batak, Sumatra Utara, dikisahkan masih bersaudara. Kakak beradik yang datang dari negeri seberang. Setelah sampai di Sumatra, mereka berpisah. Sang kakak pergi ke selatan menjadi puyang suku Komering, dan sang adik ke utara menjadi puyang suku Batak. 

2. Suku Palembang

Kelompok suku Palembang memenuhi 40 - 50% daerah kota palembang. Suku Palembang dibagi dalam dua kelompok : Wong Jeroo merupakan keturunan bangsawan/hartawan dan sedikit lebih rendah dari orang-orang istana dari kerajaan tempo dulu yang berpusat di Palembang, dan Wong Jabo adalah rakyat biasa. Seorang yang ahli tentang asal usul orang Palembang yang juga keturunan raja, mengakui bahwa suku Palembang merupakan hasil dari peleburan bangsa Arab, Cina, suku Jawa dan kelompok-kelompok suku lainnya di Indonesia. suku Palembang sendiri memiliki dua ragam bahasa, yaitu Baso Palembang Alus dan Baso Palembang Sari-Sari.

Suku Palembang masih tinggal/menetap di dalam rumah yang didirikan di atas air. Model arsitektur rumah orang Palembang yang paling khas adalah rumah Limas yang kebanyakan didirikan di atas panggung di atas air untuk melindungi dari banjir yang terus terjadi dari dahulu sampai sekarang. Di kawasan sungai Musi sering terlihat orang Palembang menawarkan dagangannya di atas perahu. 

3. Suku Gumai

Suku Gumai adalah salah satu suku yang mendiami daerah di Kabupaten Lahat. Sebelum adanya Kota Lahat, Gumai merupakan satu kesatuan dari teritorial GUMAI, yaitu Marga Gumai Lembak, Marga Gumai Ulu dan Marga Gumai Talang. 

Setelah adanya kota Lahat, maka Gumai menjadi terpisah dimana Gumai Lembak dan Gumai Ulu menjadi bagian dari Kecamatan Pulau Pinang sedangkan Gumai Talang menjadi bagian dari Kecamatan Kota Lahat. 

4. Suku Semendo

Suku Semendo berada di Kecamatan Semendo, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatera Selatan. Menurut sejarahnya, suku Semendo berasal dari keturunan suku Banten yang pada beberapa abad silam pergi merantau dari Jawa ke pulau Sumatera, dan kemudian menetap dan beranak cucu di daerah Semendo.

Hampir 100% penduduk Semendo hidup dari hasil pertanian, yang masih diolah dengan cara tradisional. Lahan pertanian di daerah ini cukup subur, karena berada kurang lebih 900 meter di atas permukaan laut. Ada dua komoditi utama dari daerah ini : kopi jenis robusta dengan jumlah produksi mencapai 300 ton per tahunnya, dan padi, dimana daerah ini termasuk salah satu lumbung padi untuk daerah Sumatera Selatan.

Adat istiadat serta kebudayaan daerah ini sangat dipengaruhi oleh nafas keIslaman yang sangat kuat. Mulai dari musik rebana, lagu-lagu daerah dan tari-tarian sangat dipengaruhi oleh budaya melayu Islam. Bahasa yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari adalah bahasa Semendo. Setiap kata pada setiap bahasa ini umumnya berakhiran "e."

5. Suku Lintang

Kawasan pegunungan Bukit Barisan di Sumatera Selatan merupakan tempat tinggal suku Lintang, diapit oleh suku Pasemah dan Rejang. Suku Lintang merupakan salah satu suku Melayu yang tinggal di sepanjang tepi sungai Musi di Propinsi Sumatera Selatan. 

Suku Melayu Lintang hidup dari bercocok tanam yang menghasilkan : kopi, beras, kemiri, karet dan sayur-sayuran. Mereka juga beternak kambing, kerbau, ayam, itik, bebek, dll. Mereka tidak mencari nafkah di sektor perikanan walaupun tinggal di tepi sungai. 

Orang Lintang adalah penganut Islam yang cukup kuat. Hal ini terlihat dengan banyaknya mesjid-mesjid dan pesantren untuk melatih kaum mudanya.

6. Suku Kayu Agung

Suku Kayu Agung berdomisili di Sumatera Selatan, tepatnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir dengan ibukotanya Kayu Agung. Wilayah ini dialiri sungai Komering. Bahasanya terdiri atas dua dialek, yaitu dialek Kayu Agung dan dialek Ogan.

Mata pencaharian suku ini bertani, berdagang, dan membuat gerabah dari tanah liat. Bentuk pertanian kebanyakan bersawah tahunan karena daerahnya terdiri dari rawa-rawa. Jadi sawah hanya dikerjakan saat musim hujan. 

Suku Kayu Agung mayoritas beragama Islam, tetapi mereka juga mempertahankan kepercayaan lama, yaitu kepercayaan mengenai dunia roh. Suku Kayu Agung percaya bahwa roh-roh nenek moyang dapat mengganggu manusia. Oleh karena itu, sebelum mayat dikubur harus dimandikan dengan bunga-bunga supaya arwah roh yang mati lupa jalan ke rumahnya. Mereka juga percaya akan dukun yang membantu dalam upacara pertanian, baik saat menanam maupun saat panen. Selain itu ada tempat-tempat keramat yang mereka anggap sebagai tempat bersemayamnya para arwah. 

7. Suku Lematang

Suku Lematang tinggal di daerah Lematang yang terletak di antara Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Lahat. Daerah ini berbatasan dengan daerah Kikim dan Enim. Suku ini menempati wilayah di sepanjang sungai Lematang, di sekitar kota Muaraenim dan kota Prabumulih. 

Asal usul orang Lematang dari kerajaan Majapahit, keturunan orang Banten dan Wali Sembilan. 

Orang Lematang sangat terbuka dan memiliki sifat ramah tamah dalam menyambut setiap pendatang yang ingin mengetahui seluk beluk dan keadaan daerah dan budayanya. Mereka juga memiliki rasa kebersamaan yang tinggi. Hal itu terbukti dari sikap gotong royong dan tolong menolong bukan hanya kepada masyarakat Lematang sendiri tetapi juga kepada masyarakat luar.

8. Suku Ogan

Suku Ogan terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Ogan Komering Ilir. Mereka mendiami tempat sepanjang aliran Sungai Ogan dari Baturaja sampai ke Selapan. Orang ogan biasa juga disebut orang Pagagan. Suku Ogan terbagi menjadi 3 (tiga) sub-suku, yakni: Suku Pegagan Ulu, Suku Penesak, dan Suku Pegagan Ilir. Kelompok masyarakat ini adalah penduduk asli dan bertani, tetapi banyak juga yang menjadi pegawai negeri. Makanan pokok suku ini ialah hasil pertanian.

9. Suku Pasemah

Suku Pasemah adalah suku yang mendiami wilayah kabupaten Empat Lawang, kabupaten Lahat, Ogan Komering Ulu, dan di sekitar kawasan gunung berapi yang masih aktif, gunung Dempo. Suku bangsa ini juga banyak yang merantau ke daerah-daerah di provinsi Bengkulu. 

menurut sejarah, suku ini berasal dari keturunan Raja Darmawijaya (Majapahit) yang menyeberang ke Palembang (pulau Perca). Suku ini banyak yang tersebar di pegunungan Bukit Barisan, khususnya di lereng-lerengnya. Menurut mitologi nama Pasemah berasal dari kata Basemah yang berarti berbahasa Melayu. Hasil utama masyarakat suku ini ialah kopi, sayur-sayuran dan cengkeh dengan makanan pokoknya ialah beras.

10. Suku Sekayu

Suku Sekayu terletak di Propinsi Sumatera Selatan. Dalam wilayah Kabupaten Musi Banyuasin. Mayoritas penduduknya petani. Hasil pertaniannya adalah padi, singkong, ubi, jagung, kacang tanah dan kedelai. Hasil perkebunan yang menonjol adalah karet, cengkeh dan kopi. Industri rakyat yang terkenal berupa bata dan genteng. 

Suku Sekayu merupakan "manusia sungai" dan senang mendirikan rumah-rumah yang langsung berhubungan dengan sungai Musi. Tidak seperti umumnya suku-suku di Indonesia, suku Bugis, Minangkabau atau Jawa, suku Sekayu jarang berpindah-pindah ke tempat yang jauh. Keinginan untuk lebih maju dan mencari keberuntungan mereka lakukan hanya sampai di ibukota propinsi. 

Suku Sekayu yang tinggal di Palembang menduduki sektor-sektor pekerjaan yang penting, mulai dari guru besar/dosen universitas, ahli riset, hartawan dan pengembang lahan, pekerja galangan dan penarik becak.

11. Suku Rawas

Suku ini terletak di wilayah propinsi Sumatera Selatan, tepatnya di sekitar dua aliran sungai Rawas dan sungai Musi bagian utara. Suku ini menempati wilayah di Kecamatan Rawas Ulu, Rawas Ilir, dan Muararupit, di Kabupaten Musi Rawas. Bahasa Rawas masih tergolong ke dalam rumpun melayu. Di wilayah ini banyak terdapat kebun karet rakyat.

12. Suku Banyuasin

Suku ini terutama tinggal di kab. Musi Banyuasin yaitu di kec. Babat Toman, Banyu Lincir, Sungai Lilin, dan Banyuasin Dua dan Tiga. Umumnya mereka tinggal di dataran rendah yang diselingi rawa-rawa dan berada di daerah aliran sungai. Sungai terbesar adalah sungai Musi yang memiliki banyak anak sungai. Mata pencaharian pokoknya adalah bertani di sawah dan ladang. Mereka masih percaya terhadap berbagai takhyul, tempat keramat dan benda-benda kekuatan gaib. Mereka juga menjalani beberapa upacara dan pantangan.

Dari berbagai sumber, kalo salah atau kurang-kurang silakan tulis dikomentar ya :):)